Suara ibu yang selalu mengganggu aktivitas malas-malasanku dikamar, setiap jam, menit, detik. Suaranya yang terdengar sayup dari dapur terdengar sampai kamar tidurku.

Wina.. tolong ambilkan pisau didapur nak”

Wina, keluar dari kamar bantu ibu masak nak”

Wina, makan nak, selagi makananya masih hangat”

Syahwina…”

Hingga suara itu perlahan menjadi melemah, ibu berada diusia senja. Suaranya tak selantang dulu, jalanya pun mulai melambat, yang paling menyedihkan adalah aku sudah tidak bisa membantu ibu lagi. Setiap hari ia selalu mengurus rumah sendirian dan hidup sendirian, ayahku sudah lama pergi dengan wanita lain, dan aku yang sibuk mengurusi pekerjaan.

Hari ini aku akan pergi keluar kota untuk pekerjaan, sebenarnya aku cemas tentang ibu. Apa aku setega itu meninggalkan ibu? Tetapi ibu selalu menolak jika kuajak. Ia lebih nyaman dirumah yang sekarang sambil menikmati masa tuanya.

Hujan masih mengguyur kota, aku diantar ibu sampai jalan menaiki bus. Dibawah payung merah yang terguyur hujan ibu tersenyum terlihat dari jendela bus yang penuh dengan rintik air. Suara sayupnya masih terdengar walaupun tercampur dengan suara mesin dan hujan. “Hati-hati ya nak”.

Selama 6 bulan lamanya aku pergi meninggalkan rumah, ibu bagaimana kabarmu? Sebentar lagi aku pasti pulang. Aku duduk disebuah apartemen, menghadap laptop dan memulai lamunan kecil yang kubuat. Aku percaya disana terdapat seseorang disuatu tempat berdoa agar aku cepat pulang.

Sesampainya dirumah, terlihat lantai penuh debu, lampu yang masih menyala dipagi hari. Aku bergegas untuk mencari ibu dikamarnya tetapi tak ada.

Aku mencari didapur, kamar mandi tidak ada ibu. Aku mulai cemas, aku duduk dan menenangkan diri. Apa ibu pergi kepasar? Jam segini, biasanya sebelum kepasar ibu selalu membangunkanku ditempat tidurku. Kamarku. Aku segera menuju kamarku yang letaknya dilantai 2, terlihat ibu terbaring dikasur. Disebelahnya terdapat album foto, terlihat terbuka dan terdapat foto-fotoku dimasa kecil.

Ibu?” kataku sambil memegang kedua tangannya, terlihat dijari manisnya sebuah cincin pernikahan yang tidak pernah ibu lepas walaupun sudah tidak bersama ayah. Badanya panas, kemudian ibu terbangun, matanya sayu melihatku. Sedikit senyuman kecil dibibirnya, air matanya berlinang membasahi kedua pipi yang penuh keriput.

Wina, ibu kangen..”

Ciiiiiiiiiiittttttttttt…..

Suara teko yang penuh air panas membangunkanku dari lamunan yang berisi tentang ibu. Aku segera mematikan kompor dan menuangkan air panas kedalam gelas yang berisi dengan teh. Malam itu hujan mengguyur seluruh kota, membuat suasana menjadi dingin. Segelas teh melunturkan dinginnya, terlihat sebuah kalender disebuah dinding dengan cat berwarna putih menunjukkan tanggal 21.

Besok adalah hari ibu, andai aku bisa pulang. Aku menuliskan sebuah surat dikertas penuh dengan garis. Putih bersih tak ada satupun noda, kemudian aku memulai untuk menuliskan sebuah kata-kata untuk ibu.

Esoknya aku dibangunkan oleh suara telepon, telepon itu membuatku untuk segera bergegas untuk pulang kerumah. Tanpa basa-basi aku langsung mengemasi semua barang-barang yang berada diapartemen.

Ketika didepan rumah, aku langsung berlari dan segera mencari ibu. Aku memeluknya, air mataku tak bisa berhenti mengalir. Rindu yang terbendung selama 6 bulan lamanya. Ibu tersenyum, terlihat senyumanya hangat menatapku. Aku menceritakan semua kisahku saat berada diapartemen, ibu hanya mendengarkan semua ceritaku sembari melontarkan senyumanya kepadaku.

Ibu percaya tidak aku sudah dipindah tugas disini, jadi aku bisa bertemu ibu setiap hari” jelasku kepada ibu.

Terlihat ibu sangat bahagia sekali, ibu tak perlu sendirian lagi ada aku. Aku kemudian memberikan surat kepada ibu, surat yang sudah kutulis diapartemen yang rencananya akan kukirimkan lewat tukang pos. Tetapi keberuntungan berpihak kepadaku, pagi itu aku diberitahu bahwa aku dipindah tugas didekat rumah, dan tanpa berpikir panjang aku langsung pulang menuju kerumah.

Kemudian aku memberikan sebuah amplop berisi surat untuk ibu.

Teruntuk Ibu,

Kasih sayangmu bagai mentari bersinar hangat memeluk tubuhku.

Aku sangat merindukanmu

Aku memiliki ratusan ribu cerita yang ingin kuceritakan padamu

Engkau yang selalu merawatku dari kecil sampai sekarang aku sukses

Aku tahu,

Ini karena do’a yang kau sertakan setiap hari padaku

Maaf ibu,

Diusia senjamu, aku tidak berada disampingmu

Aku selalu mendambakan berada disampingmu, setiap hari

Andai hal ini terwujud.”

Sebenarnya bahagia itu mudah, bagaimana caramu menemukan kebahagian itu. Ibu merupakan seseorang yang selalu membuatku bahagia, rasanya diusiaku yang berumur 27 tahun ini belum cukup untuk memuaskan semua kebahagianya.

 

 

Artikel ini ditulis oleh Syahril ( ACTy Team Polygon)

ACTy merupakan komunitas yang terdiri dari 11 anak muda terpilih yang memiliki passion di dunia industri kreatif. Bersama Polygon, kami memiliki semangat dan energi yang sama untuk saling menginspirasi dan menghasilkan karya.

What you can read next

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *