Membaca merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat bagi semua orang, bagaimana tidak? Dengan membaca kita bisa mengetahui informasi-informasi yang belum kita ketahui sebelumnya. Tetapi sayangnya, zaman sekarang minat baca di Indonesia sangatlah kurang, sehingga perlu dipupuk sejak kecil agar menggemari membaca. Tetapi di era milenial sekarang terdapat seorang mahasiswa yang rela dan tulus untuk menyalurkan hobinya untuk menambah minat baca kepada semua orang.

Yunaz Ali Akbar Karaman, Mahasiswa asal UNAIR ini setiap hari mengendarai sepedanya sambil membawa box berisikan buku-buku yang dibawa disepedanya. Berawal pada tahun 2017 tepatnya bulan Agustus, Mahasiswa ini mencoba menggabungkan hobinya untuk mengajak orang lain untuk gemar membaca dan bersepeda.

Ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya UNAIR mencoba agar minat baca di kota Surabaya semakin membaik, orang-orang lebih dekat dengan buku dan gemar membaca. Sosoknya begitu sederhana demgam sikap yang rendah hari serta murah senyum. Menggunakan sepeda yang terpasang box yang berisikan buku-buku pribadi miliknya maupun dari donasi masyarakat yang peduli. Ia berkeliling Surabaya dan berhenti dikerumunan orang untuk menawarkan bacaan secara gratis.
Termotivasi oleh masyarakat di era sekarang yang gemar membawa gadget kemana-mana, tak hanya para orang tua dan remaja tetapi sekarang menjamur sampai anak-anak. Yunaz beranggapan aktivitas tersebut tidak hanya berdampak positif melainkan juuga berdampak negatif, yang akan menyita waktu dan asyik dengan dunianya sendiri.

Dari permasalahan tersebut Mahasiswa ini terjun ke masyarakat dengan menghadirkan buku-buku yang dibawanya. Perpustakaan tersebut diberi nama Prasojo yang berarti sederhana dan apa adanya. Dengan adanya Prasojo Yunaz akan terus mengajak semua orang untuk gemar membaca dan dekat dengan pena.

“Awalnya saya keliling dengan mengunjungi car free day di Taman Bungkul Surabaya kemudian banyak orang yang tertarik dengan buku yang saya bawa.” Ujar Yunaz. Selain di Taman Bungkul pemilik perpustakaan Prasojo ini juga memperkenalkan perpustakaanya di kampus-kampus di Surabaya, warung kopi, sekitar makam daerah Rangkah, dan perkampungan kecil yang berada di Surabaya.

Tentunya banyak pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan pahit yang dialami Yunaz. Salah satu pengalaman lucu yang dialaminya adalah ketika ia membawa buku Arkeologi yang cukup tebal dengan gambar yang menarik. Terdapat seseorang yang sangat antusias dengan buku tersebut, ia terlihat sangat menikmati buku itu. Lembar demi lembar buku itu dibalik hingga Yunaz harus menunggu lama dari jam 11 malam sampai jam 2 dini hari. Karena tidak enak mau ngomong karena asyik membaca akhirnya Yunaz menunggu sampai selesai.

Tak luput dari keusilan pembaca anak-anak, mereka sering iseng dengan sepedanya seperti menaiki sepeda, mengoper-oper gear, membunyikan bel, ada juga yang ingin membawa sepedanya pulang. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat Yunaz untuk berhenti menggapai mimpi, malahan ia sangat senang untuk bertemu orang-orang seperti itu karena terdapat kisah yang akan diceritakan esok dan merupakan pengalaman yang sangat berharga baginya.

Sebagian buku yang didapat merupakan koleksi pribadi miliknya, selain itu buku-buku yang didapat merupakan sumbangan dari orang-orang yang peduli dengan perpustakaan tersebut. Masih banyak orang yang peduli dengan menyumbangkan buku, meskipun berupa buku bekas tetapi menurutnya sangat berharga sekali.

Awal perjuangan Yunaz dimulai ketika impianya membantu Indonesia meningkatkan daya baca karena dirinya yang suka membaca. Niat baik tersebut didukung penuh oleh kedua orang tuanya dan langsung membeli sepeda Polygon untuk mobilitas. “Saya memilih sepeda selain karena hobi, saya lebih dekat dengan masyarakat. Saya bisa menyapa orang yang saya temui dijalan, dan dengan bersepeda saya lebih luwes mengajak orang lain untuk membaca. Ujar Yunaz. Harapan Mahasiswa ini pada generasi-generasi selanjutnya yang nantinya suatu saat akan menjadi pembaharu dan pemegang estafet negeri ini, tentu untuk menjadi bangsa yang besar harus melihat potensi apa yang dianugerahkan Tuhan pada Negara Indonesia. Dengan keberagaman suku, agama, ras, dan bahasa Tuhan memberikan itu semua pada negeri ini supaya hidup bertoleransi dan saling menghargai.
Selanjutnya untuk dapat bersaing dengan Negara lain maka seluruh masyarakat Indonesia harus membuktkan dengan percaya diri bahwa kita bisa. Dengan membaca adalah salah satunya bahwa kita bangsa Indonesia bisa menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki kualitas yang sama dengan Negara-negara maju.

Yunaz dengan prinsip “Prasojo” yaitu sederhana dan apa adanya, dengan hal yang sederhana ia akan terus mengajak orang lain untuk dekat dengan buku sehingga kualitas diri dapat meningkat. Dengan prinsip tersebut akan ada mimpi untuk menjelajahi beberapa lokasi sehingga dapat bertemu dengan anak-anak dan masyarakat yang lebih banyak lagi.

 

Artikel ini ditulis oleh Syahril ( ACTy Team Polygon)

ACTy merupakan komunitas yang terdiri dari 11 anak muda terpilih yang memiliki passion di dunia industri kreatif. Bersama Polygon, kami memiliki semangat dan energi yang sama untuk saling menginspirasi dan menghasilkan karya.

What you can read next

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.