Suara berita di Televisi saat itu mendengung ditelingaku, suara reporter yang biasanya ku acuhkan terdengar menarik ketika berita yang dibacakan adalah Palu dan Donggala. Aku langsung terperangah, fokusku menghilang, dan air mata spontan langsung keluar dari kedua bola mataku. Bagaimana tidak, tempat dulu aku tumbuh, tempat bermain saat aku kecil kini porak- poranda terkena gempa berkekuatan magnitudo 7,7. Palu, tempat tinggalku ketika aku masih kecil. Singkat cerita dahulu aku masih berumur 7 tahun tinggal di Palu, tetapi karena pekerjaan Ayahku yang dipindah tugas ke Jawa Timur, jadi kami satu keluarga mau tidak mau harus berpindah. Aku kecewa pada diriku sendiri, rencana yang saat ini masih kubangun untuk pergi ke Palu, ternyata malah terdahului oleh bencana. Belum sempat aku kembali untuk bernostalgia ke sana. Apa aku harus terdiam dirumah? Dengan keadaan saudara-saudaraku yang berada di Palu merasakan isak tangis yang luar biasa.

Singkat cerita aku langsung menuju ke Palu, hal ini kulakukan tanpa berpikir panjang. Hatiku tiba-tiba tergerak dan langsung menuju lokasi bencana. Aku bersama relawan lainya dibawa dari Jakarta menggunakan pesawat Hercules. Sesampainya disana, hatiku teriris Gempa dan Tsunami yang terjadi di Palu membuat miris.

Kami kesusahan untuk mencari tempat untuk tidur, tidak adanya sinyal untuk berkomunikasi sehingga aku tidak bisa menghubungi keluargaku, akses transportasi yang susah untuk menuju ke tempat pengungsian, karena akses sinyal disana susah kami para tim relawan memanfaatkan gelombang radio dan menggunakan HT untuk berkomunikasi.

Dari sekian banyak penduduk, hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri dari maut. Terdapat orang yang terjebak dalam bangunan dan tertimbun dalam tanah. Dari waktu ke waktu mereka ditemukan, sebagian dalam keadaan hidup, sebagian sudah tak tertolong. Pernah mendengar suara meminta tolong tetapi tidak bisa ditemukan dimana keberadaanya.

Bekas-bekas bangunan rumah, gedung-gedung menjadi tidak beraturan, yang sebelumnya tertata rapih menjadi rusak. Suasana malam hari menjadi sangat mencekam karena kurangnya pencahayaan, yang kubawa saat itu adalah lampu darurat yang biasa aku gunakan ketika listrik padam dirumah, cukup untuk penerangan bagi para pengungsi.

Berbekal senter dan sepotong besi aku dan tim relawan melanjutkan mengevakuasi korban, karena kami yakin masih banyak korban yang masih terlantar bingung untuk mencari bantuan-bantuan. Disini aku juga berusaha survive untuk melewati setiap jalan-jalan berupa bangunan-bangunan seperti kayu, besi, pecahan genteng dan beling. Melewati diatas reruntuhan bangunan membuat kami susah untuk berjalan, tetapi semangatku tidak akan goyah, aku yakin masih banyak korban yang tertimbun dibawah reruntuhan.

Alat berat pun masih belum datang, sehingga kami kesusahan untuk mengevakuasi korban. Hari kedua mungkin suara minta tolong berkurang daripada hari pertama. Terdengar minta tolong dalam bangunan yang mungkin jika tersentuh atau tersenggol sedikit saja bisa roboh, tapi aku tidak kuasa jika sudah mendengar korban yang masih hidup aku langsung tanpa basa-basi menuju ke bangunan itu.

Kondisi yang gamang, ditambah dengan akses jalan yang susah untuk dilalui oleh mobil ataupun motor menyulitkan proses evakuasi dan penyaluran bantuan membuat kami kesulitan untuk mendistribusikan bantuan ketika bantuan-bantuan makanan sudah datang. Tak lama setelah itu, bantuan sepeda sampai di Palu, aku sangat berterimakasih sekali karena ini sangat berguna sekali baik untuk para relawan.

Total 100 sepeda yang diberikan itu sangat berharga sekali bagi kami untuk digunakan untuk membeli bahan pokok dan mencari sisa-sisa barang yang masih tersisa. Sebelumnya kami para relawan harus berjalan sekitar 5km sekarang mudah dengan adanya bantuan sepeda.

Hari ketiga seusai gempa bantuan alat berat mulai berdatangan. Satu unit ekskavator dan satu unit traktor mulai bekerja membongkar reruntuhan-reruntuhan. Proses pencarian saat itu semakin intensif, sisa alat berat lainya dikerahkan dihari berikutnya. Akhirnya doaku tersampaikan, aku sangat berterimakasih kepada saudara-saudaraku yang menyisihkan sebagian hartanya. Bantuan kalian sangat berharga untuk saat ini, terima kasih untuk para donator semoga apa yang kalian berikan untuk mereka menjadi berkah bagi semua.

 

 

 

Artikel ini ditulis oleh Syahril ( ACTy Team Polygon)

ACTy merupakan komunitas yang terdiri dari 11 anak muda terpilih yang memiliki passion di dunia industri kreatif. Bersama Polygon, kami memiliki semangat dan energi yang sama untuk saling menginspirasi dan menghasilkan karya.

What you can read next

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.