“Tulisan sederhana, dari Arie Dagienkz, yang mencoba menantang dirinya dan mengikuti passionnya, Bersepeda dari Jakarta ke Denpasar Bali. Karena ini semua bukan tentang destinasi, tapi tentang makna sebuah perjalanan yang sesungguhnya”

Kalau di tanya, “gimana rasanya setelah bersepeda dari Jakarta ke Bali?” Saya akan jawab,”Luar biasa!”

Mungkin banyak yang sudah melakukan perjalanan bersepeda dengan jarak ribuan kilometer dengan tujuan beraneka ragam. Buat saya perjalanan 12 hari #bersepedaJKTDPS bukan sekedar perjalanan bersepeda tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang tidak akan pernah saya lupakan.

Bagi saya bukan lah Denpasar tujuan utamanya yg terpenting adalah perjalanannya. Selama 12 hari, setiap pagi saya harus bangun subuh, mandi, beres-beres barang dan sepeda, berdoa bersama lalu bersepeda menuju kota berikutnya.
(I miss all these things huhuhuhu)

Karena bersepeda, jalannya pelan (banget-well it’s me hehehe) saya jadi memperhatikan setiap detail pemandangan yang saya lihat, entah itu orang, pohon, aspal, sawah dan lain sebagainya. Saya seperti menyentuh semua itu. Saya sapa semua orang yang kebetulan bertemu diperjalanan walaupun saya tidak mengenalnya. Hal hal itu lah yang membuat saya lebih menghargai, mengerti, menghormati tumbuhan, orang atau apapun yang saya jumpai.

Tentunya dalam perjalanan panjang akan selalu ada turun naiknya, baik kondisi mental maupun psikologi saya. Tapi menurut saya itu adalah sesuatu yang lumrah. Justru menurut saya hal tersebut harus ada karena saya, kami semua rekan seperjalanan masing masing tengah berproses.

Setiap tanjakan jahanam atau jalan-jalan yg membosankan ditengah teriknyanya matahari, atau jalan tidak rata yang membuat saya merasakan “pegel” besok paginya adalah kancah peperangan mental dan jiwa. Tiap ketemu hal itu saya seperti ingin menangis, kesal, marah, tapi ya hanya ada satu kata.. LAWAN!!

Kalo kata lagunya Keala Settle..
“I won’t let them break me down to dust
I know that there’s a place for us
For we are glorious

I am brave, I am bruised
I am who I’m meant to be, this is me”
Sesungguhnya perjalanan ini bukan lah fisik yang menjadi tumpuannya melainkan mental diatas segalanya.

Untunglah, partner saya si “BEND” melakukan tugasnya dengan baik selama perjalanan. Si “BEND” yang tidak lain merupakan sepeda touring polygon yang sangat handal menghajar seluruh rintangan yang saya temui diperjalanan, baik itu tanjakan tajam, turunan curam atau jalan-jalan yang tidak rata.

Kalau boleh mengutip, ini lirik yang menggambarkan perasaan saya di akhir perjalanan ini. “Life’s a journey, not a destination.. and it’s amazing!” – Aerosmith

What you can read next

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *