Andi Ananda &Amp; Mantra Liberta

Ada brand yang lahir dari peluang pasar. Ada juga yang lahir dari keyakinan bahwa sebuah simbol perlu dibuat agar lebih banyak orang merasa punya ruang yang sama.

Bagi Andi Ananda, fase awal membangun Manta Liberta justru menjadi fase paling menyenangkan karena semuanya dimulai tanpa beban berlebihan. Tidak ada rasa takut gagal yang mendominasi, melainkan semangat untuk mengajak orang bergerak bersama.

“Kami membangun dengan nothing to lose, tapi sejak awal ada satu semangat yang tidak berubah: Manta harus menjadi simbol bagi mereka yang sering berada di pinggir.”

Semangat itu lahir dari dunia sepeda. Saat itu Andi melihat bagaimana banyak cyclist daerah, atlet dari luar kota besar, hingga komunitas kecil sering tidak memiliki representasi yang benar-benar dekat dengan mereka. Dari situlah Manta dibangun dengan identitas inklusif: bisa hadir di komunitas kecil, tetapi juga relevan di ruang olahraga yang lebih besar.


Dari Simbol Kaum Marjinal ke Identitas yang Tidak Berubah

Mantra Liberta: Merk Pakaian Olahraga Lokal Milik Andi Ananda

Nama Liberta sendiri lahir dari gagasan tentang kebebasan dan inklusivitas. Bukan hanya soal siapa yang memakai produknya, tetapi siapa yang merasa diwakili oleh semangat di balik brand itu.

Andi menikmati ketika Manta dipakai oleh cyclist dengan sepeda sederhana di daerah, lalu muncul juga di komunitas besar ibu kota, di jalanan akhir pekan, hingga event nasional. Baginya, kekuatan brand justru ada ketika satu produk bisa diterima oleh latar belakang yang sangat berbeda.

“Kami ingin Manta dipakai dari desa sampai kota besar, dari sepeda basic sampai high-end.”

Karena itu, sejak awal Manta tidak dibangun untuk mengejar validasi. Saat banyak brand lokal sibuk menyesuaikan diri agar menyerupai brand global, Manta memilih mempertahankan karakter yang sejak awal memang terasa berbeda. Brand ini ingin menjadi ruang yang menyatukan berbagai latar belakang, bukan hanya dari sisi gaya, tetapi juga dari perspektif dan identitas yang dibawa oleh setiap individu yang mengenakannya.

Pilihan itu tentu bukan tanpa tantangan. Di kota besar seperti Jakarta, Andi melihat bagaimana persepsi terhadap brand global masih sangat kuat dan sering kali menjadi tolok ukur. Namun, alih-alih merasa terintimidasi, kondisi tersebut justru mendorong Manta untuk terus meningkatkan kualitas agar dapat berdiri di level yang sama, tanpa harus kehilangan identitasnya sendiri.

“Kalau diadu dengan brand global, kami memang ingin ada di stage yang sama.”


Endurance Mindset yang Membentuk Cara Menghadapi Tekanan

Cara Andi bertahan sebagai pengambil keputusan banyak dibentuk jauh sebelum Manta berkembang.

Sejak kecil, olahraga sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia menekuni berbagai disiplin endurance seperti sepeda, lari, renang, hingga strength and conditioning. Dari sana lahir filosofi yang sampai hari ini tetap ia pegang: habit consistency dan trust the progress.

Itu sebabnya ia jarang melihat tekanan sebagai sesuatu yang melemahkan. Bahkan ketika sebuah eksperimen bisnis belum berhasil, respons pertamanya bukan merasa kalah, tetapi melihatnya sebagai ruang belajar.

“Saya terbiasa dengan rasa sakit, jadi pressure bukan sesuatu yang asing… kadang justru tim saya yang capek duluan ngikutin ritmenya,” ujarnya sambil tertawa.

Namun bagi Andi, hal itu bukan sekadar dinamika kerja, melainkan bagian dari proses membangun pola pikir yang sama di dalam tim. Ia percaya bahwa ketahanan mental dan konsistensi bukan hanya perlu dimiliki secara individu, tetapi juga harus menjadi budaya yang hidup di dalam brand.

Mindset itulah yang perlahan ia tanamkan sebagai fondasi, bukan hanya untuk bertahan di tengah tekanan, tetapi juga sebagai bahan bakar agar Manta bisa terus tumbuh secara berkelanjutan.


Saat Brand Lokal Masuk Pasar Global Tanpa Kehilangan Arah

Mantra Liberta Sudah Tembus Pasar Global

Bagi Andi, salah satu tantangan terbesar brand lokal sering kali bukan hanya soal pasar, tetapi cara memandang diri sendiri. Banyak yang merasa pertumbuhan hanya mungkin terjadi jika memiliki modal besar, atau terlalu menjadikan brand global sebagai acuan hingga perlahan kehilangan karakter aslinya.

Di tengah pola pikir seperti itu, perjalanan Manta justru berkembang secara bertahap dan organik. Perasaan ketika produknya mulai diterima di luar negeri ternyata tidak berbeda jauh dengan saat pertama kali melihat Manta dipakai orang di jalan.

Awalnya hanya satu-dua orang yang mengenakan Manta saat bersepeda. Lalu mulai terlihat di Car Free Day Jakarta, masuk ke komunitas yang lebih besar, dipakai dalam kejuaraan nasional, hingga akhirnya hadir di berbagai event internasional.

Hari ini, Manta sudah memiliki direct order di beberapa negara Asia dan bahkan pernah mengirim produknya hingga ke Norwegia.

“Perasaannya campur aduk: kaget, bangga, dan haru.”

Namun bagi Andi, masuk ke pasar global bukanlah tekanan untuk berubah arah. Justru itu menjadi dorongan untuk terus meningkatkan inovasi, desain, fitur, dan kualitas, tanpa harus kehilangan identitas yang sejak awal dibangun.


Tumbuh Kolektif, Karena Brand Tidak Pernah Besar Sendirian

Dalam perjalanan membangun Manta, Andi tidak pernah melupakan fase awal ketika semuanya masih serba terbatas. Orang-orang yang percaya di awal: komunitas kecil, teman dekat, hingga atlet yang bersedia memakai produknya saat brand ini belum dikenal, menjadi bagian penting dari fondasi yang ia bangun hari ini.

“Kami tidak pernah lupa siapa yang tumbuh bersama kami dari awal.”

Namun, makna “tumbuh bersama” bagi Andi tidak berhenti pada konteks bisnis. Ia sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya saat muda. Pernah menekuni atletik dan basket hingga level PORDA, Andi merasakan langsung bagaimana rasanya berkembang tanpa dukungan yang cukup dari lingkungan terdekat.

Pengalaman itu meninggalkan kesan yang kuat. Bukan sebagai luka, tetapi sebagai dorongan. Ia melihat ada banyak potensi yang sebenarnya bisa berkembang lebih jauh jika mendapatkan ruang, kepercayaan, dan dukungan yang tepat.

Dari situlah lahir keinginan untuk tidak hanya membangun brand, tetapi juga menciptakan dampak yang lebih luas. Bagi Andi, Manta bukan sekadar tentang produk, tetapi tentang bagaimana perjalanan yang ia lalui bisa menjadi alasan untuk mendukung perjalanan orang lain.


Liberta Athlete Camp: Komitmen untuk Bertumbuh Bersama Atlet

Liberta Athlete Camp

Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui Liberta Athlete Camp. Program ini tidak dibangun untuk menciptakan tim super, melainkan sebagai bentuk komitmen Manta dalam mendampingi proses panjang seorang atlet.

Liberta Athlete Camp hari ini menaungi berbagai cabang olahraga seperti road bike, triathlon, mountain bike, boxing, hingga MMA. Fokus utamanya bukan hanya pada hasil, tetapi pada proses, bagaimana atlet berkembang secara konsisten, baik secara fisik maupun mental.

Dalam perjalanannya, Andi merasakan berbagai sisi dari proses tersebut. Ada atlet yang berkembang sesuai harapan, menunjukkan disiplin dan kerja keras, hingga akhirnya membawa pulang medali emas dari ajang seperti Southeast Asian Games, bahkan kejuaraan dunia.

Salah satu yang paling membekas adalah momen ketika atlet yang ia percaya sejak awal berhasil membuktikan potensinya dengan meraih emas di nomor team time trial.

Namun, di sisi lain, ada juga fase yang tidak mudah. Atlet yang kehilangan arah, semangat yang menurun, hingga perjalanan yang harus berhenti di tengah jalan. Bagi Andi, semua pengalaman itu memiliki makna yang sama pentingnya dalam membentuk cara pandangnya.

Pertemuannya dengan atlet dari National Paralympic Committee Indonesia juga memberi perspektif baru. Sosok seperti Muhammad Fadli Immammuddin menjadi salah satu inspirasi terbesar, seorang mantan pembalap profesional yang bangkit setelah kecelakaan dan berhasil menjadi juara dunia.

“Mereka membuat saya lebih hidup, lebih disiplin, dan lebih bersyukur.”

Pada akhirnya, Liberta Athlete Camp bukan hanya tentang mendukung atlet untuk berprestasi, tetapi tentang menjaga semangat kolektif: bahwa perjalanan tidak harus dijalani sendirian, dan setiap proses memiliki nilai yang layak diperjuangkan.


Konsistensi Sebagai Investasi yang Hasilnya Diyakini

Di tengah tuntutan pertumbuhan bisnis, Andi tidak melihat waktu, tenaga, dan finansial yang dicurahkan sebagai pengorbanan. Baginya, semuanya adalah bagian dari proses panjang yang harus dijalani dengan konsisten.

Seperti olahraga endurance, kekuatan tidak hanya dibangun dari sekali usaha, tetapi dari keberanian untuk terus mengulang, memperbaiki, dan melanjutkan, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.

“Seperti olahraga endurance, hal yang sama harus terus diulang, diperbaiki, lalu dijalani lagi.”

Bagi Andi, mindset ini bukan hanya soal bertahan secara personal, tetapi juga tentang bagaimana perjalanan tersebut bisa menggerakkan orang lain di dalamnya: tim, komunitas, hingga brand itu sendiri untuk terus berkembang bersama.

Andi berpesan kepada anak muda Indonesia untuk percaya pada proses, karena hasil tidak datang dari kecepatan sesaat. Namun, di saat yang sama, jangan berjalan sendiri. Bangun koneksi, belajar berkomunikasi, dan terbuka terhadap peluang, karena pertumbuhan yang berkelanjutan selalu datang dari kombinasi usaha dan hubungan yang dibangun dengan orang lain.

What you can read next