E-Ride To Reconnect Volume 1

E-Ride: Bukan Jalan Pintas, Tapi Cara Baru Melihat Jarak

Banyak yang mengira e-bike itu tentang kemudahan. Tapi di atas Polygon Tambora AE, saya justru belajar satu hal: perjalanan tetap harus diperjuangkan. Tanjakan tetap curam, angin tetap melawan, dan kaki tetap harus bekerja. Bedanya, saya jadi bisa mengayuh lebih jauh. Tidak hanya jarak tetapi juga pengalaman.

“It is not designed to reduce the challenge, but to redefine what’s possible.”

Di bulan Syawal, saya ingin mencoba cara lain untuk reconnect. Bukan sekadar datang, tapi benar-benar hadir dengan proses. Kondisi bersepeda sambil puasa membuat saya harus benar-benar mengatur strategi dan pola pikir sebaik mungkin untuk bisa sampai ke tujuan. Mengayuh, berhenti, bertemu, dan memberi waktu untuk setiap momen.


Day 1 — Bekasi: Perjalanan yang Dimulai dengan Hangat

Perjalanan ini dimulai bahkan sebelum saya mengayuh pedal.Dari Surabaya, saya naik bus, membawa sepeda dalam kondisi full bike. Tidak perlu bongkar pasang, hal ini juga memberi saya waktu untuk menyimpan energi untuk apa yang akan datang.

Petualangan Yoan Narotama Dan Peserta E-Ride Lainnya

Pukul 07.00 pagi, saya tiba di Bekasi.

Udara masih terasa ringan. Tapi yang langsung terasa bukan suasananya, melainkan kehangatan dari orang-orang yang saya temui. Saya langsung menuju acara “Halabikehalal” bersama BORAC, Mundhut Berkah, dan JTB Community.

Hari pertama tidak diisi dengan jarak jauh. Tapi justru dengan sesuatu yang lebih penting: mengisi ulang relasi.

Obrolan mengalir tanpa terasa. Dari cerita lama sampai rencana-rencana yang belum tentu terjadi. Malamnya, saya berhenti di “Kope Galaxy”, menyiapkan mental sejenak untuk ribuan meter elevasi yang sudah menanti di depan mata. Sekadar duduk, minum, dan menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan pernah hanya soal sepeda.

Dan mungkin itu yang membuat saya tidak merasa sedang “pergi jauh”.


Day 2 — Menembus Ego Jakarta menuju Kabut Jonggol

Yoan Narotama Bersama Dengan Teman Cyclistnya
Yoan Narotama Dengan Sepeda Gravel Elektrik Polygon Tambora Ae
Yoan Narotama Siap Meluncur Dengan Sepeda Gravel Elektrik Polygon Tambora Ae

Pukul 09.00 pagi, saya meninggalkan Bekasi menuju Jakarta. Bukan untuk langsung lanjut perjalanan jauh, tapi untuk silaturahmi singkat, bertemu beberapa teman sebelum benar-benar keluar kota.

Rencananya sederhana. Tapi seperti banyak hal di Jakarta, rencana itu tidak berjalan sesuai waktu.

Saya baru benar-benar bisa lepas dari kota sekitar pukul 15.00 sore. Macetnya panjang dan menguras energi, bukan di kaki, tapi di kepala. Buat saya yang terbiasa dengan ritme Surabaya, ini jadi pengingat bahwa setiap kota punya “ego”-nya sendiri, dan tidak selalu bisa kita atur.

Begitu keluar dari hiruk-pikuk kota dan masuk jalur menuju Jonggol, suasana langsung berubah.

Jalan mulai lebih terbuka, udara terasa berbeda, tapi justru di situ ujian pertama datang. Hujan turun deras, disertai angin yang cukup kencang. Kondisi jalan cepat berubah, dan jarak pandang semakin terbatas.

Saya mencoba bertahan beberapa waktu. Tapi pada akhirnya, sekitar pukul 20.00 malam, saya memutuskan untuk menepi di Mushola Attaqwa, Cibatu Tiga – Cariu.

Keputusan itu sederhana: tujuannya adalah tiba di tujuan, bukan memaksa.

Mushola kecil itu jadi tempat istirahat yang tidak direncanakan. Di tengah hujan yang belum juga reda, tempat itu terasa cukup untuk menghangatkan badan.

Saya tidak butuh waktu lama untuk tertidur.

Pukul 02.30 dini hari, saya bangun dan kembali bersiap. Hujan sudah reda, tapi kabut masih tebal. Jalanan sunyi, hampir tanpa kendaraan. Dengan kondisi itu, saya kembali mengayuh menggunakan Polygon Tambora AE, pelan tapi konsisten, membelah jalur menuju Bandung.


Day 3 — “Waduuuh Bener!” di Jalur Wado

Memasuki hari ketiga, perjalanan dari Bandung menuju Majalengka via Wado menjadi titik di mana semuanya terasa lebih serius.

Jalur Sumedang-Wado bukan sekadar panjang, tapi penuh kombinasi tanjakan dan turunan yang nyaris tanpa jeda. Di beberapa titik, kemiringannya cukup ekstrem, dan saat itu saya melaluinya dalam kondisi hujan malam hari dengan lalu lintas kendaraan berat yang terus lewat.

Situasinya menuntut fokus penuh. Bukan cuma soal kuat di kaki, tapi juga soal membaca jalan, menjaga ritme, dan tetap waspada di tengah kondisi yang tidak ideal.

Kalau harus diringkas dalam satu kalimat, mungkin ini yang paling pas:

“Waduuuh… bener.”

Di jalur seperti ini, Polygon Tambora AE terasa membantu di momen yang tepat. Bukan membuat tanjakan jadi mudah, tapi memberi dorongan tambahan saat dibutuhkan, cukup untuk menjaga ritme tanpa kehilangan kontrol.

Karena di titik ini, tujuan saya bukan lagi soal kecepatan. Tapi memastikan perjalanan tetap aman, dan saya benar-benar bisa sampai di kota tujuan seperti yang direncanakan.

Sekitar pukul 23.00 malam, saya tiba di Masjid Jami Al Hidayah, Desa Palasah.

Lelahnya terasa penuh. Bukan cuma fisik, tapi juga fokus yang sudah terkuras sepanjang jalur tadi. Saya berhenti, rebah sejenak di dalam masjid, dan memberi tubuh waktu untuk diam.

Tidak lama, karena perjalanan masih berlanjut. Pukul 03.00 pagi, saya kembali mengayuh. Udara masih dingin, jalan masih gelap, tapi arah sudah jelas: menuju Cirebon, mengejar fajar di Kota Udang.


Day 4 — Cirebon dan Baterai Silaturahmi yang Meluap

Perjalanan ini akhirnya tiba di Cirebon.

Jika dirangkum, totalnya mencapai 483 kilometer dengan elevasi 3.839 meter. Angka yang, kalau dilihat sekilas, terasa berat. Dan memang, secara fisik, perjalanan ini menguras banyak tenaga.

Tapi ada hal lain yang tidak tercatat di angka. Di setiap titik berhenti, selalu ada pertemuan. Jabat tangan dengan teman lama, obrolan dengan komunitas, hingga tawa yang muncul begitu saja tanpa rencana. Hal-hal sederhana itu justru menjadi “baterai” tambahan yang rasanya jauh lebih kuat daripada sekadar daya listrik.

Perjalanan ini saya selesaikan bersama Polygon Tambora AE, tapi yang benar-benar membuatnya terasa penuh adalah orang-orang yang saya temui di sepanjang jalan.

Setibanya di Cirebon, saya menitipkan sepeda di Xtrembike, lalu melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya menggunakan Sinar Jaya.

Tubuh memang lelah. Itu tidak bisa dihindari. Tapi ada rasa lain yang justru terasa penuh, energi dari silaturahmi yang terkumpul sepanjang perjalanan, yang tidak habis saat perjalanan selesai.

Terima kasih untuk setiap masjid dan mushola yang pintunya selalu terbuka bagi musafir. Dan untuk setiap kawan yang meluangkan waktu, meski hanya untuk berbagi cerita singkat di tengah perjalanan.

Perjalanan ini selesai di sini. Tapi rasanya, ini bukan akhir.

Karena masih ada satu rute yang belum diselesaikan. Masih ada satu perjalanan yang menunggu untuk dituntaskan.


Ritual yang Tidak Berhenti di Tujuan

Acara E-Ride To Reconnect Diakhiri Dengan Kebersamaan

E-Ride to Reconnect bukan tentang mencapai titik akhir. Ini tentang cara baru melihat perjalanan, bahwa jarak bukan hanya soal kilometer, tapi tentang apa yang kita temui di sepanjang jalan.

Tentang bagaimana sebuah mushola bisa jadi tempat pulang sementara. Bagaimana hujan bisa jadi pengingat untuk berhenti. Dan bagaimana pertemuan sederhana bisa jadi sumber energi terbesar.

Perjalanan ini selesai di Cirebon. Tapi rasanya belum selesai.

Karena masih ada satu hal yang belum saya lakukan: pulang dengan cara yang sama.

Sampai jumpa di E-Ride to Reconnect (Vol. 2): Cirebon — Surabaya!

What you can read next