Tidak semua keputusan besar dimulai dengan keraguan. Bagi Irene Setiawati, keputusan untuk melanjutkan dan membesarkan Manika Jewellery justru lahir dari keyakinan yang tenang, bukan karena jalannya sudah sepenuhnya jelas, melainkan karena ada nilai, proses, dan karya yang terasa perlu dijaga.
Sekitar tahun 2015, Irene Setiawati memutuskan mengambil alih Manika Jewellery. Usaha ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Ia tumbuh dari CV Maharani, bisnis keluarga yang sudah berjalan sejak akhir 1980-an, berakar pada kerajinan perak dan batu alam.
Namun bagi Irene, melanjutkan bukan berarti mengulang. Ia sadar sejak awal bahwa tantangannya bukan sekadar menjaga usaha tetap hidup, melainkan menumbuhkannya dengan arah yang berbeda.
“Saya tidak ragu untuk memulai, meski tantangan berdiri tegas di hadapan saya.”
Tidak ada rasa ragu saat memulai. Tetapi ada kesadaran penuh bahwa produk bagus saja tidak otomatis dipahami. Irene berhadapan dengan pekerjaan yang tidak selalu terlihat dari luar: membangun bahasa agar karya bisa dimengerti.
Bagaimana memperkenalkan desain yang tidak mengikuti tren instan. Bagaimana mengajak pasar menerima kuningan sebagai material perhiasan. Dan yang paling menantang, bagaimana menjelaskan keindahan batu alam yang dibiarkan mentah, apa adanya di tengah selera yang terbiasa pada kilau yang seragam dan “sempurna”.
Di titik ini, pertumbuhan Manika memang tidak cepat. Edukasi membutuhkan waktu. Konsistensi menuntut kesabaran. Namun Irene memilih berjalan pelan, karena ia tahu bahwa mempercepat laju dengan mengorbankan identitas justru akan menjauhkan Manika dari nilai yang ingin dijaga.
Beauty in Imperfection, Bukan Sekadar Tagline
Bagi Irene, beauty in imperfection bukan kalimat yang dicari untuk kepentingan komunikasi. Ia lahir dari cara Manika memandang batu sejak awal. Batu alam tidak dipilih untuk disamarkan, dipoles berlebihan, atau dipaksa terlihat seragam. Justru sebaliknya, retakan kecil, lubang alami, hingga permukaan yang tidak sepenuhnya halus dipertahankan sebagai bagian dari ceritanya.
“Batu itu tidak ada yang sempurna. Justru disitulah keindahannya.”
Irene bahkan mengakui, batu yang terlalu “sempurna” seringkali terasa membosankan baginya. Kilau yang rapi dan seragam tidak selalu menghadirkan makna. Sementara pada batu mentah, ada jejak alam yang tidak bisa diulang. Ada karakter. Ada kejujuran.
Di titik ini, Manika tidak sedang menjual perhiasan semata, tetapi cara memandang keindahan. Bahwa tidak semua yang bernilai harus tampak mulus. Bahwa ketidaksempurnaan bukan sesuatu yang perlu disembunyikan, melainkan dihargai.
Pilihan ini tentu bukan jalan termudah. Pasar terbiasa dengan standar visual tertentu. Banyak yang mempertanyakan mengapa batu tidak dipoles lebih licin, mengapa bentuknya tidak diseragamkan. Namun Irene memilih bertahan. Bukan karena keras kepala, melainkan karena ia tahu, jika identitas ini dilepaskan, Manika akan kehilangan inti dari karyanya.
Seiring waktu, filosofi ini justru menemukan audiensnya sendiri, mereka yang menghargai keindahan alami, memahami bahwa setiap batu berbeda, dan melihat ketidaksempurnaan sebagai nilai, bukan kekurangan. Di sanalah beauty in imperfection berhenti menjadi tagline, dan benar-benar hidup sebagai sikap.
Tak lama setelahnya, Manika Jewellery bertemu dengan satu momen penting. Di Indonesia Fashion Week 2015, Manika hadir sebagai peserta baru. Lokasinya dilewati kurator Kementerian Perdagangan saat itu, Samuel Wattimena. Ia berhenti, melihat lebih dekat, lalu tertarik. Bukan semata karena desainnya, tetapi karena keberanian Manika menampilkan batu alam Indonesia dalam bentuk paling jujur.
Bagi Irene, pertemuan itu bukan validasi instan, melainkan penguat arah. Sebuah tanda bahwa memilih bertumbuh secara perlahan, dengan mengenali tantangan, bukan menghindarinya, adalah keputusan yang layak diperjuangkan.
Krisis Internal yang Mengubah Cara Melangkah
Tantangan terberat Manika tidak datang dari pasar global. Ia justru muncul dari dalam, dari hal-hal yang jarang dibicarakan dengan bangga.
Sekitar 2017 hingga 2019, ketika krisis ekonomi melanda, penjualan menurun tajam. Target yang sebelumnya terasa realistis tidak tercapai. Keuangan perusahaan yang sebelumnya dikelola ayah Irene harus ditinjau ulang.
Di saat yang hampir bersamaan, ayah Irene mengalami stroke. Manajerial Manika pun sepenuhnya berada di tangannya. Bukan hanya bisnis yang ia kelola, tapi juga emosi, ekspektasi, dan beban keluarga.
“Order sempat turun 50%. Karyawan hampir tidak beraktivitas, namun kebutuhan hidup mereka tak ikut berhenti.”
Irene tahu ia tetap harus membayar mereka, meski pemasukan nyaris tidak ada. Ia memilih tidak bergantung pada pinjaman bank yang bunganya terus berubah dan kerap tidak berpihak pada usaha kecil. Pembayaran gaji dilakukan bertahap, mengikuti uang masuk.
Keputusannya bertahan tanpa pinjaman bank itu bukan tanpa resiko dan bukan pula karena ambisi pribadi. Pilihan untuk berhenti pun terbuka untuk Manika Jewellery, namun tanggung jawab akan orang yang terlibat dibaliknya justru menjadi semangatnya untuk bertahan.
“Ada perajin, supplier, dan karyawan di belakang saya.
Kalau saya berhenti, saya meninggalkan banyak orang.”
Bertumbuh Pelan, Tanpa Kehilangan Diri
Pelan-pelan, Manika menemukan ritmenya. Pasarnya memang masih banyak di dalam negeri, namun berada di ruang-ruang yang mempertemukannya dengan pembeli global seperti di Bali, Jakarta, dan pameran seperti Inacraft. Di sanalah pertumbuhan terjadi, bukan lewat lonjakan besar, melainkan pertemuan-pertemuan kecil yang berulang.
Pembeli dari Jepang, Eropa, hingga Amerika datang, bertanya, lalu kembali. Ada kolektor yang terus mencari karya Manika dari tahun ke tahun. Layanan servis seumur hidup; memoles ulang, mengganti batu, dijaga sebagai bentuk tanggung jawab, bukan sekadar transaksi.
Sejak 2016 hingga 2026, Manika hadir konsisten di Inacraft. Penghargaan seperti Femina Award dan Inacraft Award hadir bukan sebagai tujuan, melainkan penguat bahwa karya buatan tangan Indonesia mampu berdiri sejajar.
Di tengah industri yang bergerak cepat ke arah mesin dan otomatisasi, Manika memilih tetap handmade. Teknik tempa dikerjakan satu per satu, dengan segala konsekuensinya. Bagi Irene, ini bukan keterbatasan, melainkan sikap; menjaga perajin dan teknik tradisional agar tetap hidup.
Godaan untuk mengikuti tren selalu ada. Manika memilih fleksibel tanpa kehilangan identitas: beradaptasi dengan pasar, menerima custom, namun tetap setia pada karakter batu alam dan filosofi kejujuran yang menjadi napasnya sejak awal.
Indonesia Bisa, Jika Kita Percaya dan Berjalan Bersama
Bagi Irene, tantangan terbesar local brand Indonesia bukan kualitas, melainkan apresiasi. Ia melihat bagaimana orang luar sering kali lebih menghargai artisan dan sumber daya alam Indonesia dibanding kita sendiri. Masalahnya bukan kemampuan, tapi kesabaran dan kemauan untuk saling melihat, saling belajar, dan saling memperkuat.
Dalam konteks Indonesia Bisa Bersama Polygon, cerita Manika menjadi pengingat bahwa tumbuh tidak harus sendiri. Kebersamaan antar-brand lokal bukan berarti menyeragamkan, tapi berdiri sejajar dengan identitas masing-masing.
Identitas tidak selalu ditemukan cepat. Tapi selama langkahnya mantap, selama nilai dijaga, perjalanan itu layak dijalani. Pesan Irene untuk pelaku brand lokal sederhana, tapi jujur:
“Kenali apa yang kamu cintai dan ingin kamu tunjukkan ke dunia.”
Indonesia Bisa bukan tentang siapa yang paling cepat besar. Tapi tentang siapa yang memilih menghargai potensi kekayaan alam dan keahlian perajin lokal, lalu berkomitmen merawat dan memberdayakannya, meski jalannya tidak pernah mudah.


