Ferry Yuliana Dan Mimpi Bags

Setiap perjalanan selalu punya titik awal. Bagi Ferry Yuliana, titik itu justru datang kembali di usia 50 tahun. Usia ketika kehilangan sering dianggap akhir, bukan kesempatan untuk memulai lagi. Namun bagi Bu Lia, berhenti bukan pilihan.

Tahun 2002, di Yogyakarta, Bu Lia memulai sesuatu yang kala itu dianggap biasa saja. Ia memilih rotan dan bambu sebagai bahan utama tas buatannya. Material yang sering diberi label “karya pasar”. Murah. Tidak prestisius. Tidak dianggap punya nilai desain.

Namun justru di sanalah Bu Lia melihat potensi.

Bukan sekadar soal bahan, tapi tentang bagaimana sebuah karya diperlakukan. Gendhis Bags lahir dari kegelisahan itu: keinginan untuk mengangkat martabat material alami Indonesia lewat desain, detail, dan cerita. Dari tangan para pengrajin, tas-tas rotan itu diberi perlakuan berbeda; handle kulit, finishing rapi, pendekatan visual yang lebih modern. Perlahan, persepsi mulai berubah.

Dari Jogja, Gendhis masuk ke Jakarta. Dari harga Rp.20.000, naik menjadi Rp.100.000. Bukan karena bahan berubah, tapi karena cara memandangnya yang berbeda.


Ketika Pasar Lokal Jadi Sekolah Terpanjang

Awal Ferry Yuliana Memulai Dengan Produk Gendhis BagsPerjalanan Gendhis Bags tidak instan. Sejak awal, Bu Lia sadar bahwa membangun brand di pasar lokal membutuhkan waktu yang sangat panjang. Bahkan sangat panjang, pengalaman Bu Lia butuh lima hingga tujuh tahun untuk konsumen lokal memahami dan menghargai produk berbahan natural seperti rotan dan bambu.

Alih-alih mengejar pertumbuhan cepat, Bu Lia memilih konsistensi. Ia membawa tas-tas Gendhis ke berbagai ruang, dari seminar, kegiatan pemerintahan, hingga forum resmi. Bukan sekadar untuk berjualan, melainkan untuk menunjukkan bahwa material lokal Indonesia memiliki kualitas dan nilai estetika yang layak dihargai.

“Perjalanannya memang panjang harus mengedukasi banyak orang bahkan ke pejabat. Sempat diremehkan, tapi saya percaya dengan edukasi kita bisa membangun ekosistem untuk bertumbuhnya produk lokal.” 

Pelan-pelan, upaya itu membuahkan hasil. Gendhis Bags mulai dikenal lebih luas. Karyanya pernah dipilih sebagai souvenir dalam acara keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga digunakan dalam berbagai kegiatan resmi sejak era kepemimpinan Presiden Jokowi saat masih menjabat wali kota.

Sekitar tahun 2005, kejutan datang tanpa banyak tanda. Pesanan dari luar negeri mulai masuk, dari Spanyol, Jepang, hingga Amerika. Reaksinya campur aduk: kaget, senang, sekaligus tak percaya. Tas rotan yang dulu kerap dianggap “karya pasar”, kini menyeberangi batas negara. Jepang bahkan menjadi pasar yang konsisten selama tujuh tahun.

Namun menariknya, di tengah peluang global itu, Bu Lia tidak sepenuhnya mengalihkan fokus. Ia tetap memilih membangun pasar lokal. Bukan karena pasar internasional tidak penting, melainkan karena ia percaya Indonesia punya potensi besar, asal diberi ruang dan waktu untuk belajar menghargai karyanya sendiri.


Ketika Kehilangan Menjadi Awal Baru

Mimpi Bags Mulai DiproduksiPandemi datang dan menghentikan banyak hal. Produksi terhenti, penjahit dirumahkan, dan pertemuan dengan pelanggan tak lagi mungkin. Di masa penuh ketidakpastian itu, Bu Lia mengambil keputusan besar: pada 2021, Gendhis Bags diakuisisi oleh rekan dekatnya.

“Terkadang melepaskan justru membuatnya tetap berjalan.” 

Keputusan ini bukan kegagalan. Bagi Bu Lia, melepaskan justru menjadi cara paling bertanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan. Namun yang terasa setelahnya adalah jeda, masa diam yang membuat segalanya terasa kosong dan tidak pasti.

Dari jeda itulah, Mimpi Bags lahir. Dimulai di usia 50-an, Bu Lia memilih tetap melangkah. Terinspirasi dari masa pandemi, Mimpi Bags membawa harapan untuk kembali berkarya, memberi ruang kerja, dan menjaga mimpi tetap hidup.

“Mimpiku, mimpimu, mimpi kita.”

Dengan DNA tas berbahan katun dan kanvas yang ringan, ramah lingkungan, dan mudah terurai, Mimpi Bags menjadi penanda bahwa kehilangan dan keterhentian bukan akhir. Ia bisa menjadi ruang untuk menyiapkan sesuatu yang baru, dengan kesadaran yang lebih jujur dan arah yang lebih tenang.


Ketika Ekspresi Menjadi Karya Bernilai

Bagi Bu Lia, tas bukan sekadar produk, melainkan medium cerita. Setiap koleksi Mimpi Bags selalu lahir dari pengalaman hidup yang nyata, bukan sekadar mengikuti tren.

Mimpi Bags: Tas Lokal Berkualitas &Amp; StylishHingga kini, Mimpi Bags telah menghadirkan sepuluh seri. Seri pertama, Rindu, lahir dari kerinduan di masa pandemi, rindu berkarya dan bergerak. Tanpa disangka, seri ini menembus sekitar 10.000 pesanan dan membuka kembali peluang kerja bagi penyablon manual rumahan. Cerita personal itu justru menemukan tempatnya di pasar.

Seri Sekawan menyusul dengan kisah pertemanan, memadukan katun, tenun, dan kanvas. Setiap seri berbeda, namun berpijak pada satu prinsip: kejujuran dalam bercerita. Bagi Bu Lia, ekspresi yang jujur adalah kekuatan utama sebuah karya.

Nilai ini juga tercermin dalam proses produksi. Mimpi Bags melibatkan pekerja difabel sebagai bagian dari tim. Karena bagi Bu Lia, karya yang bernilai bukan hanya yang laku dijual, tetapi yang mampu memberi ruang hidup bagi lebih banyak orang.

“Sekawan, salah satu produk katun yang pekerjaan rumit yang juga dikerjakan oleh karyawan pekerja difabel dengan keterbatasan fisik maupun mental. Dengan seri ini, kita turut membantu orang juga.”


Indonesia Bisa: Bertumbuh Tanpa Takut Usia

Perjalanan Mimpi Bags Dengan Melibatkan Komunitas LokalMemulai kembali di usia 50 bukan perkara mudah. Dunia bergerak cepat, generasi baru datang dengan ide segar. Namun alih-alih merasa tertinggal, Bu Lia memilih belajar dan berjalan bersama. Fokusnya pun bergeser.

“Kalau dulu Gendhis mengejar panggung global. Tapi Mimpi Bags kini tumbuh lewat kemitraan, saling menguatkan, bukan saling menyingkirkan.”

Ia aktif berbagi pengalaman dengan UMKM, membantu mereka bertahan secara mental dan bisnis, lewat pendekatan kolaboratif yang lebih manusiawi. Di fase hidup ini, berkarya terasa lebih jujur dan tenang. Mindset menjadi kunci: tetap aktif, menjaga energi, dan membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk ikut bertumbuh.

Ada satu cerita pelanggan yang selalu diingatnya. Tas Mimpi diletakkan di dashboard mobil, bukan sekadar barang, tapi pengingat untuk terus mengejar mimpi. Dari situ Bu Lia percaya, karya yang baik bukan hanya dipakai, tapi memberi daya.

“Tetaplah punya mimpi! Karena mimpi adalah energi untuk mewujudkannya.
Meski usia bertambah, kita tetap bisa bertumbuh.
Meski lelah, kamu selalu punya kekuatan.
Teruslah berkreasi dengan tenang dan lebih bermakna.”

Karena Indonesia Bisa bukan soal usia, bukan soal siapa yang paling cepat sampai. Tapi tentang siapa yang terus menjaga mimpi, menghargai proses, dan memberi ruang agar lebih banyak orang bisa tumbuh bersama.

What you can read next