Tidak semua perjalanan besar dimulai dari kesiapan yang sempurna. Rizka Febri, seorang polisi wanita yang kembali naik sepeda setelah cukup lama berhenti, memulai langkahnya dengan lebih banyak ragu daripada yakin.
Dari ikut Tour of Kemala 2025, melewati proses seleksi yang tidak ringan, hingga akhirnya membawa nama Polri di ajang internasional, artikel ini bercerita tentang proses mencoba, saat tubuh belum sepenuhnya siap, tapi kemauan memilih untuk jalan dulu.
Bagi Rizka, seorang polisi wanita yang sehari-hari bertugas sebagai polantas, perjalanan menuju World Police and Fire Games (WPFG) 2025 bukanlah mimpi yang direncanakan sejak lama. Tidak ada target besar untuk tampil di ajang internasional.
Yang ada hanyalah satu langkah kecil yang diambil tanpa banyak ekspektasi, dan langkah itulah yang perlahan mengubah segalanya. WPFG sendiri merupakan ajang olahraga internasional yang mempertemukan personel kepolisian, pemadam kebakaran, dan petugas tanggap darurat dari berbagai negara.
“Rasanya masih percaya nggak percaya. Saya sudah lama nggak gowes, lalu ikutan Tour of Kemala 2025 di Jogja, eh… malah masuk seleksi WPFG.”
Awal Perjalanan: Insecure, Keraguan, dan Kesempatan yang Terlalu Berharga
Perlu diluruskan sejak awal: keikutsertaan Rizka di World Police and Fire Games (WPFG) bukan karena penunjukan langsung. Ada proses seleksi yang ketat dan kompetitif. Dan di situlah, keraguan mulai muncul.
Rizka sangat sadar siapa saja yang menjadi pesaingnya. Atlet-atlet muda dengan fisik prima. Beberapa di antaranya merupakan atlet tim nasional yang masih aktif berlatih setiap hari.
“Mereka masih muda, masih lucu-lucu,” katanya sambil tertawa kecil. “Dan memang secara jam terbang, mereka jauh lebih sering gowes dibanding saya.”
Kesadaran itu membuat Rizka memilih menjalani proses seleksi secara diam-diam. Ia tidak membagikannya ke publik, bahkan ke lingkaran yang lebih luas sekalipun.
“Ada rasa takut. Takut nggak lolos. Takut kalau sudah cerita ke mana-mana, ternyata gagal. Itu beban mental yang berat.”
Seiring proses berjalan, suara-suara dari luar mulai terdengar. Tidak semuanya memberi semangat. Beberapa justru meragukan.
“Kelihatan banget saya seperti nggak pernah latihan, nggak pernah siapin diri buat event apa pun, tapi tiba-tiba ikut ajang internasional. Jadi wajar kalau ada omongan.”
Bahkan ada satu kalimat yang sempat ia dengar dan cukup menusuk:
“Rizka itu nggak pantas loh ada di event ini.”
Rasa kecewa tentu ada. Tapi justru di titik itu, Rizka mengambil keputusan penting—untuk tetap melangkah. Bukan karena merasa paling siap, tapi karena merasa kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.
Perjuangan, Latihan Berat, dan Pembuktian Diri
Masuk ke fase latihan intensif, tantangan yang dihadapi Rizka tidak main-main. Ritme latihan padat dan berat menjadi ujian tersendiri, terutama karena tubuhnya sudah lama tidak berada di kondisi latihan kompetitif.
“Saya sempat drop. Bahkan sempat tipes karena overtraining.”
Di titik terendah itu, keinginan untuk menyerah sempat muncul. Tubuh lelah, mental terkuras, dan rasa tidak siap kembali menghantui. Namun ada satu pertanyaan sederhana yang akhirnya menahannya untuk tidak mundur: kapan lagi?
“Kapan lagi dapat kesempatan seperti ini? Ini pengalaman luar biasa yang mungkin cuma datang sekali seumur hidup. Kalau sekarang saya mundur, saya mungkin akan menyesal.”
WPFG 2025 pun menjadi momen yang sangat personal bagi Rizka. Tahun ini adalah tahun terakhirnya bertanding di kategori usia 18–29. Tahun berikutnya, ia akan masuk kelompok usia 30+.
“Momen ini haru dan membanggakan. Sekaligus jadi motivasi buat saya kembali menekuni sepeda dengan lebih serius.”
Secara institusional, ajang ini juga menjadi kebanggaan bagi Polri. Cabang olahraga sepeda berhasil menyumbangkan total 20 medali, catatan penting dalam keikutsertaan Polri di panggung internasional.
Dan di momen ini, Rizka merasa bangga bisa menggunakan sepeda Polygon seri Helios A8X, produk dalam negeri untuk berlaga di level dunia. Sebuah simbol bahwa karya lokal mampu menemani perjuangan atlet Indonesia.
Bertahan, Dukungan, dan Keberanian yang Tumbuh Perlahan
Menjalani peran ganda sebagai polantas sekaligus atlet bukan hal yang sederhana. Hari-hari Rizka dimulai sejak pagi, lalu diisi dengan latihan yang menuntut fisik dan fokus. Waktu sering kali terasa sempit, dan energi harus dibagi dengan sangat sadar.
“Jujur, itu rumit. Kalau nggak sempat latihan outdoor, ya indoor pakai trainer. Benar-benar harus pintar curi waktu.”
Ada masa ketika lelah menumpuk dan rutinitas terasa berat. Di titik seperti itu, Rizka belajar bahwa bertahan bukan hanya soal disiplin, tapi juga soal menjaga diri sendiri. Ia memberi ruang untuk bernapas, bertemu teman, dan melakukan hal-hal sederhana agar mental tetap sehat.
Di tengah tekanan latihan dan tuntutan pekerjaan, Rizka tidak berjalan sendirian. Dukungan datang dari keluarga, rekan kerja, instansi, komunitas sepeda, hingga Polygon yang terus memberi semangat sepanjang proses persiapan.
“Lingkungan itu sangat berpengaruh. Apalagi saat tekanan latihan berat. Lingkungan yang sehat dan suportif bikin kita lebih kuat menjalaninya.”
Namun di balik semua dukungan itu, ada kekuatan yang tumbuh dari dalam diri Rizka sendiri. Sebuah keberanian yang tidak selalu hadir sebagai rasa percaya diri penuh, melainkan sebagai kemauan untuk tetap melangkah meski rasa takut masih ada.
Untuk para perempuan, Rizka menyampaikan pesan yang sangat personal:
“Kamu berhak mencoba, berhak tumbuh, dan berhak gagal sekalipun. Keberanian bukan berarti tidak takut, tapi tetap melangkah meski takut.”
Baginya, keberanian bukan tentang tampil tanpa ragu, melainkan tentang memberi izin pada diri sendiri untuk belajar, jatuh, dan bangkit kembali, tanpa merasa harus selalu sempurna.
Berani Melangkah Meski Belum Siap
Bagi Rizka, membuktikan kapasitas diri bukan soal kata-kata. Pembuktian yang sesungguhnya hadir lewat tindakan yang konsisten, berani mengambil tantangan, bertahan dalam proses, dan tetap tumbuh meski jalannya tidak mudah.
Perjalanannya menuju World Police and Fire Games 2025 mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu lahir dari kesiapan yang sempurna. Kadang, keberanian justru muncul di tengah rasa ragu, tubuh yang belum sepenuhnya siap, dan pikiran yang dipenuhi tanda tanya.
Rizka tidak melompat ke panggung dunia dengan janji kemenangan. Ia melangkah dengan kejujuran, tentang ketidaksiapan, tentang kelelahan, tentang rasa takut gagal. Namun ia memilih bertahan.
Di balik medali dan ajang internasional, pesan terpenting dari kisah ini sederhana: setiap orang berhak mencoba. Kesempatan tidak selalu datang kepada mereka yang paling siap, tapi sering kali kepada mereka yang berani menjawabnya.
Dan mungkin, dari perjalanan Rizka, kita diingatkan bahwa melangkah, meski perlahan, meski tertatih, selalu lebih berarti daripada diam di tempat yang terasa aman, tapi tak pernah benar-benar membawa kita ke mana pun.


