Alwi Johan Bersama Anak-Anak Alor

Perjalanan ini tidak dimulai dari rencana besar atau target yang muluk. Alwi Johan Yogatama atau yang lebih dikenal sebagai Alwijo, bahkan menyebutnya sebagai perjalanan nebeng. Sebuah perjalanan untuk ikut hadir, melihat dari dekat, dan memahami cerita yang selama ini hanya terdengar dari kejauhan.

Bersama Polygon, Alwijo menuju Alor, Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari niat tulusnya untuk berbagi dengan sesama. Ia tidak datang membawa jawaban, apalagi solusi instan. Yang dibawanya justru sikap sebaliknya: membuka diri untuk belajar dari tempat yang ia kunjungi.

Tujuan perjalanannya adalah sebuah ruang sederhana bernama Rumah Belajar Melang.


Alor dan Makna Jarak

Siapa yang tak kenal dengan keindahan Indonesia Timur? Alor terletak di sisi Timur Indonesia, dikenal akan lanskap laut yang luas, perbukitan, dan desa-desa yang tersebar.

Sayangnya, keindahan itu datang bersamaan dengan tantangan yang nyata: Jarak, akses, dan infrastruktur.

Di Alor, jarak bukan sekadar angka, ia adalah waktu tempuh yang panjang dengan jalan yang bergelombang dan berbatu. Hal ini membuat masyarakat Alor lebih susah dalam mendapat berbagai kesempatan dan peluang.

Bagi anak-anak, pergi belajar maupun membantu orang tua sering kali berarti berjalan cukup jauh dengan sarana yang terbatas. Buku bacaan lebih minim dan proses belajar-mengajar yang berlangsung lebih lama.

“Ini adalah institusi pendidikan tempat bagi anak-anak Alor untuk belajar membaca dan bermimpi. Meski semangat mereka menggebu, tapi akses ke lokasi jauh, fasilitas masih terbatas, dan koleksi buku belum banyak.”
-Alwi Johan-

Hal ini kemudian menggerakkan hati Elvie Padafani, seorang aktivis Alor yang kemudian mendirikan sebuah rumah belajar yang nyaman bagi anak-anak untuk belajar atau sekadar bermain.


Rumah Belajar Melang: Ruang yang Hidup dari Kepedulian

Rumah Belajar Melang didirikan oleh Elvie Padafani atau akrab disapa kak Elvie oleh anak-anak setempat, merupakan ruang belajar alternatif akademi dan non akademi bagi anak-anak.

Rumah Belajar Melang bukan sebuah sekolah formal, bukan juga lembaga besar. Tetapi memiliki mimpi besar yang tumbuh dari kebutuhan, kepedulian, dan keinginan untuk memastikan anak-anak tetap punya ruang untuk belajar.

“Rumah Belajar Melang kami dirikan bukan karena kami punya banyak uang, tapi agar anak-anak punya tempat berkegiatan positif selagi akses internet di sini terbatas. Kami ingin mereka tetap punya ruang untuk belajar, membuka dunia, dan tidak kehilangan semangatnya.”
-Elvie Padafani-

Di tempat ini, anak-anak SMP dan SMA tidak hanya datang sebagai murid. Mereka juga menjadi pengajar bagi adik-adiknya yang masih mengenyam bangku Sekolah Dasar.

Kegiatan yang dilakukan terbilang sederhana: belajar membaca, menulis, berhitung, membuat kreativitas tangan, hingga permainan motorik dan sensorik sederhana. Anak-anak belajar saling membantu, belajar bertanggung jawab, dan belajar tumbuh bersama.

Proses belajar dibuat sesederhana namun tetap menyenangkan agar lebih mudah dipahami oleh anak-anak Namun justru dari kesederhanaan itulah proses belajar berjalan. Kak Elvie berusaha untuk membuat sarana peraga pembelajaran serupa permainan dengan alat-alat yang sederhana.

Bagi Alwijo, melihat dinamika ini memberi perspektif baru. Pendidikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk fasilitas lengkap. Meski serba terbatas, di Rumah Belajar Melang ini pendidikan hidup lewat keterlibatan dan konsistensi komunitasnya.</p


Polygon Memberikan Sepeda Bagi Alor: Sebagai Alat untuk Menjangkau

Mobilitas dan infrastruktur adalah tantangan lain bagi anak-anak di Alor. Dalam keseharian di Alor, mobilitas menjadi tantangan yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas belajar. Jarak antara rumah, sekolah, dan rumah belajar tidak selalu memungkinkan untuk ditempuh dengan mudah, terutama bagi anak-anak.

Melalui program CSR ini, Polygon menyalurkan lima unit sepeda untuk mendukung kegiatan Rumah Belajar Melang. Sepeda-sepeda tersebut digunakan sebagai alat bantu mobilitas, mempermudah anak-anak dan pengelola rumah belajar untuk berpindah dari satu titik ke titik lain.

Sepeda Polygon Untuk Membantu Mobilitas Anak-Anak AlorBagi Polygon, dukungan pada pendidikan anak adalah fondasi untuk membangun bangsa. Realitanya adalah tidak banyak anak-anak yang memiliki akses pada pendidikan, seperti masih minimnya jumlah tempat belajar informal hingga sulitnya menjangkau sekolah.

Namun melihat semangat anak Alor yang luar biasa, memberi suntikan harapan bagi bangsa di masa depan. Mereka pantang menyerah untuk bisa mengenyam bangku pendidikan. Beberapa anak tidak malu untuk membantu orang tua dengan berjualan setelah berangkat ke sekolah.

Jumlahnya memang tidak besar. Namun di konteks Alor, perannya terasa nyata. Sepeda membantu menjaga ritme aktivitas tetap berjalan. Ia membuka akses, menghemat tenaga, dan memberi ruang gerak yang lebih luas.

“Dukungan ini untuk anak-anak Alor mampu bermimpi setinggi-tinggi mungkin, karena ketika pun kita terjatuh, kita akan jatuh di tengah taburan bintang-bintang.”
-Alwi Johan-

Di titik ini, Alwijo melihat sepeda dari sudut pandang yang berbeda. Bukan soal olahraga dan performa, melainkan soal fungsi dan dampak. Sepeda menjadi alat yang mendukung keberlanjutan aktivitas belajar, bukan sekadar benda.

Pengalaman ini menegaskan satu hal penting: hadir di sebuah tempat tidak selalu berarti membawa solusi. Dalam konteks seperti ini, memahami kebutuhan dan mendukung dari dekat jauh lebih relevan dibanding datang dengan jawaban siap pakai.

Sejalan dengan itu, Alda Miranda (Marketing & Communication Polygon Bikes) menyampaikan bahwa pendekatan CSR Polygon selalu berangkat dari prinsip kolaborasi dan relevansi. Setiap inisiatif dirancang untuk berjalan bersama komunitas lokal, menyesuaikan kebutuhan nyata di lapangan, dan tidak berhenti pada bantuan sesaat.


CSR sebagai Proses, Bukan Momen

Sepeda Polygon Tiba Di AlorPerjalanan ke Alor merupakan bagian dari rangkaian inisiatif CSR Polygon yang lebih luas. Sebelumnya, Polygon juga terlibat dalam berbagai program keberlanjutan, termasuk kolaborasi dengan WWF di Sumatra.

Benang merah dari berbagai inisiatif tersebut adalah komitmen jangka panjang. Bagi Polygon, CSR bukan soal satu kegiatan atau satu kunjungan. Ia adalah proses berkelanjutan untuk mendukung akses, mobilitas, dan kesempatan yang lebih setara.

Di Alor, pendekatan ini diwujudkan lewat dukungan terhadap Rumah Belajar Melang, ruang yang sudah lebih dulu hidup dan bergerak bersama komunitasnya. Polygon tidak datang untuk menggantikan peran yang ada, melainkan untuk memperkuat yang sudah berjalan.


Pulang dengan Perspektif Baru

Saat perjalanan berakhir, Alwijo tidak membawa pulang cerita heroik. Ia membawa refleksi.

Tentang anak-anak yang belajar mengajar satu sama lain. Tentang sepeda yang membuka akses. Tentang komunitas kecil yang bergerak dengan cara sederhana, namun konsisten.

Perjalanan nebeng ini mungkin singkat secara waktu, tetapi panjang secara makna. Ia mengingatkan bahwa perubahan sering kali tidak datang dalam bentuk besar dan instan. Sering kali, perubahan dimulai dari kehadiran yang tulus dan langkah kecil yang dilakukan bersama.

Bagi Polygon dan Alwi Johan, kolaborasi di Alor bukan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Ia adalah proses saling belajar, saling memahami, dan berjalan bersama menuju masa depan yang lebih inklusif, pelan namun berkelanjutan.

Aksi CSR ini adalah satu dari banyak aksi berkelanjutan Polygon mendukung semangat anak bangsa menaklukkan batas. Karena setiap langkah kecil kita adalah perjalanan besar bagi bangsa, Indonesia Bisa bersama Polygon.

What you can read next