Nancy Margried &Amp; Jbatik

Seorang ibu duduk di depan laptop. Matanya meniti satu demi satu pola batik yang berhasil menarik perhatiannya beberapa bulan terakhir. Pola yang sangat ia kenal biasa ia dapati di kain, kini hadir pada medium yang berbeda.

Namanya Nancy Margried, seorang wanita yang pikirannya sibuk mencari jawaban dari bagaimana jika teknologi bisa membantu untuk membuka ruang baru bagi kreativitas pada pembatik?

Tahun 2007, di ruangan sederhana itu, tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorak keberhasilan, Batik Fractal lahir. Sebuah brand batik yang proses perancangan motifnya dibuat dengan sebuah software bernama jBatik, jauh sebelum anak-anak muda berlomba mendirikan startup dengan jutaan ide aplikasi.

Nancy tahu betul bahwa setiap motif membawa cerita serta nilai yang diwariskan lintas generasi. Maka dari itu software jBatik diciptakan bukan untuk merusak nilai luhur dari batik, melainkan untuk menyempurnakan, memudahkan proses perancangan untuk menghidupkan motif batik yang kompleks, dengan cara mentransformasi batik tradisi dengan teknologi.

Mimpinya hanya satu,

Saya membayangkan Batik Fractal menjadi ekosistem besar yang menghubungkan ribuan pengrajin di seluruh Indonesia.


jBatik Adalah Solusi yang Membawa Batik Indonesia ke Kelas Dunia

Desain Jbatik Yang Dibantu Dengan Kecanggihan Teknologi Masa KiniMeski mengandalkan teknologi, esensi batik tetap dijaga. Prosesnya dilakukan secara manual, menggunakan canting, cap, dan pewarna alami, sebagaimana tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kesabaran dan ketelitian menjadi nilai utama yang membuat batik hidup dan bercerita melalui setiap helai kainnya.

Perubahan justru dilakukan pada proses menciptakan desain. jBatik menjadi teknologi yang dimanfaatkan untuk membantu proses perancangan batik agar pengrajin bisa menciptakan desain yang lebih kompleks.

Susunan dasar pembuatan batik menggunakan konsep matematika algoritma fraktal, sebuah rangkaian instruksi matematis, yang hasilnya akan memiliki pola kemiripan dari hasil geometris kompleks.

Kombinasi algoritma fraktal dengan canting tradisional membuat hasilnya punya karakter modern tanpa meninggalkan esensi batik yang sebenarnya.

Kami selalu bilang: teknologi membantu tangan, tapi rasa tetap dari hati. 

Niat tulus Nancy berhasil membawa jBatik berkiprah di kancah internasional. Sebuah koleksi istimewa bernama Whispering Forest telah berjajar di Front Row Paris 2025 dan Osaka Expo 2025.

Koleksi Whispering Forest merupakan hasil kerja sama dengan 30 UMKM Sukabumi dan Cianjur. Tema koleksi ini bercerita tentang alam Parahyangan—gunung, sungai, dan hutan yang memberi kehidupan.

Pesan yang dibawakan pada dua eksibisi bergengsi itu sederhana: teknologi bisa menjadi cara baru untuk menjaga alam dan tradisi tetap hidup.

Kami ingin dunia melihat bahwa batik bisa tampil modern tanpa kehilangan akarnya.


Konsistensi Nancy Merawat Warisan Batik Lewat Cara Pandang yang Baru di Tengah Keraguan Pengrajin

Pembuatan Desain Batik Menggunakan JbatikSejak awal mendirikan, Nancy tahu langkahnya tidak mudah. Bahkan bisa dibilang cukup berani baginya untuk memperkenalkan jBatik ke khalayak umum. Membawa teknologi ke dunia batik berarti berhadapan dengan banyak keraguan, termasuk dari mereka yang sangat mencintai tradisi ini.

Mereka takut teknologi akan mengambil alih pekerjaan tangan manusia. Namun keraguan itu perlahan mencair setelah mereka mencobanya secara langsung. Alih-alih tergeser, para pengrajin justru merasa terbantu.

Nancy tak lelah mengajarkan bahwa teknologi memberi ruang untuk bereksperimen, memungkinkan mereka menciptakan desain sendiri dengan proses yang lebih cepat, pilihan yang lebih beragam, dan tanpa menghilangkan sentuhan personal yang selama ini mereka banggakan.

Salah satu yang paling berkesan bagi Nancy adalah seorang ibu asal Sukabumi yang mengikuti pelatihannya. Laptop adalah hal yang asing baginya, namun berkat ketelatenan Nancy dan keuletan ibu pengrajin yang tak hilang asa belajar, ia akhirnya bisa membuat motif sendiri. Tidak hanya itu, bahkan berhasil menjualnya secara online.

“Bu Nancy, saya bisa bikin batik digital,” ucap ibu tersebut kepada Nancy. Nancy ikut bangga.

Ketika mereka bilang “saya bisa bikin batik digital,” itu bukan hanya tentang teknologi — tapi tentang rasa percaya diri yang tumbuh. 

Kisah itu semakin membakar Nancy untuk mengedukasi pengrajin batik lain agar semakin dekat dengan teknologi untuk meningkatkan kualitas karya mereka. Kini, setelah 17 tahun berkarya, semakin banyak pengrajin yang bangga karena hasil karyanya bisa dikenal sampai luar negeri.

Keberpihakan utama kami adalah pada perajin. Membantu pengembangan UMKM adalah our decision dan position. Pengguna jBatik ini umumnya adalah pembatik yang tidak punya dana, sehingga jBatik bukanlah software komersial.


Menemani Proses, Bukan Memaksakan Perubahan

Hasil Jbatik Tampil Di Pameran Paris &Amp; OsakaNancy memilih untuk tidak datang sebagai ahli. Ia duduk bersama pengrajin. Mendengarkan cerita mereka. Membiarkan mereka bertanya, ragu, bahkan menolak. Karena semua ada prosesnya.

Di titik ini, Nancy percaya bahwa teknologi, jika digunakan dengan empati, bisa menjadi alat untuk memberdayakan masyarakat yang lebih kuat dan solid.

Pelan-pelan, jBatik menjadi bagian dari proses kreatif. Pengrajin mulai berani melakukan eksperimennya. Mencoba motif baru. Mengembangkan pola yang sebelumnya terasa terlalu rumit untuk diwujudkan.

Eksibisi di Paris dan Osaka menjadi jawaban dari semua usaha keras UMKM Batik di Indonesia. Atas dukungan Nancy, mereka tidak hanya mengubah cara kerja, tapi cara pandang dan cara mereka bermimpi. Dari sebuah usaha sederhana, mereka berani untuk bermimpi besar.

Bagi Nancy, inilah inti dari Batik Fractal: membangun ekosistem yang memungkinkan perubahan terjadi secara manusiawi. Bahwa tradisi yang mereka jaga masih punya tempat di dunia hari ini.


Menjaga Batik dengan Cara yang Jujur

Nancy Margried Menjaga Batik Dengan Cara Yang JujurKeberhasilan tidak selalu datang dalam bentuk sorotan. Bagi Nancy, dampak paling berarti justru terasa di kehidupan sehari-hari pengrajin; waktu kerja yang lebih terkelola, penghasilan yang lebih stabil, generasi muda yang mulai melihat batik sebagai sesuatu yang bernilai seni tinggi.

Perjalanan Nancy Margried belum selesai. Ia pun tidak pernah menganggap apa yang ia lakukan sebagai solusi tunggal bagi dunia batik. Batik tulis, batik cap, batik digital, semuanya punya ruang dan waktunya masing-masing. Yang terus ia jaga adalah satu hal: agar batik tidak berhenti menjadi milik mereka yang menghidupinya.

Di Batik Fractal, Nancy belajar bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan. Ia hanya bisa dibuka pelan-pelan. Dengan ruang yang aman untuk mencoba. Dengan kegagalan yang tidak dihakimi. Dengan keberanian kecil yang tumbuh dari rasa percaya diri.

jBatik, pada akhirnya, bukan tentang teknologi. Ia tentang pilihan. Tentang memberi perajin kesempatan untuk menentukan langkahnya sendiri: apakah tetap setia pada cara lama, atau mencoba jalan baru tanpa harus kehilangan jati diri.

Setiap kali seorang perajin duduk di depan layar, melihat motif yang ia kenal hadir dalam bentuk baru, Nancy tahu bahwa yang sedang terjadi bukanlah penggantian tradisi. Yang terjadi adalah dialog. Percakapan antara masa lalu dan masa depan, yang bertemu di tangan manusia hari ini.

Batik tidak pernah berhenti berkembang. Ia hanya menunggu untuk diperlakukan dengan rasa hormat. Dan selama keberanian untuk belajar, berubah, dan menjaga itu terus dirawat, batik akan tetap hidup, bukan sebagai kenangan, tetapi sebagai praktik yang terus berjalan, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tim Batik Fractal Indonesia

What you can read next